Wednesday, 17 July 2013

Dunia oh Dunia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Dunia adalah penjara bagi seorang mu’min dan syurga bagi seorang kafir.” [Hadits Riwayat Imam Muslim]

Saudara ku yang beriman, hadits ini setidaknya memberikan kita dua faedah,


Faedah...
Pertama: Dunia di Mata Seorang Mu’min

Bahwa dunia yang ditempati seorang mu’min pada saat ini walaupun terhampar luas dihadapannya, tetapi dia bagaikan dipenjara. Bagaimana tidak, walaupun dia seorang yang kaya tetapi banyak hal yang tidak dapat dia nikmati melalui hartanya, misalnya dalam perkara-perkara yang dalam syari’at diharamkan. Dia terbelenggu aturan-aturan yang dibuat oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yang disampaikan melalui rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena bagi seorang mu’min, dunia tiada lain adalah kesenangan yang memperdaya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”[Q.S. Ali Imron: 85]

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah, berkata: “Dunia seperti air yang tersisa di jari ketika jari tersebut dicelup di lautan sedangkan akhirat adalah air yang masih tersisa di lautan.”[Kitab Fathul Baari: 11/232]


Faedah Kedua: Dunia di Mata Orang Kafir

Bahwa dunia yang ditempati oleh orang kafir pada saat ini adalah alam raya yang terhampar luas dan boleh dinikmati dengan sebebas-bebasnya. Karena kebodohannya terhadap syari’at Islam dia dapat bertindak seenak hatinya, walaupun dia adalah orang yang miskin tetapi orang kafir tersebut merasa bebas dan tidak merasa terbebani dengan kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan yang dibebankan kepada seseorang yang beriman. Dan ketika dia ditimpa kesusahan, dia tidaklah bersabar, melaikan dia merasa dunia telah disempitkan untuknya dan banyak kasus terjadi bunuh diri di kalangan mereka karena mereka tertekan dengan musibah yang menimpa mereka.

Kekhawatiran Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa salam Terhadap Kaum Mu’minin

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khawatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khawatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlomba-lomba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya.” [Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim]

Saudaraku kaum mu’minin rahimakumullah, sungguh Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa salam melalui hadits tadi memperingatkan kita agar tidak terpedaya dengan dunia dan fitnahnya. Terutama fitnah harta, tahta dan wanita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda: “Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita.” [HR. Muslim]

Sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa salam: “Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah ummatku adalah harta.” [Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi]

Karena itu bersikaplah engkau di dunia ini dengan pertengahan, antara berlebihan mengejar dunia agar kita tidak lalai beribadah. Karena biasanya berlebihan dalam urusan dunia akan melalaikan kita dalam mengingat Allah. Dan Allah subhanahu wa ta’ala pun berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikanmu.” [Q.S. At-Takatsur: 1].

Fudhail Bin Iyadh rahimahullah, berkata kepada Ibnu Mubarak, dia berkata: “Engkau memerintahkan kami untuk zuhud, sederhana dalam harta, hidup yang sepadan (tidak kurang tidak lebih). Namun kami melihat engkau memiliki banyak harta. Mengapa boleh jadi begitu?”

Kemudian Ibnu Mubarak pun berkata: Wahai Abu ‘Ali (Fudhail bin ‘Iyadh). Sesungguhnya hidupku seperti ini hanya untuk menjaga wajahku dari ‘aib (meminta-minta). Juga aku bekerja untuk memuliakan kehormatanku. Aku pun bekerja agar dapat membantuku untuk taat pada Rabbku.”[Kitab Jami Al-‘Ulum: 350]


Jangan Bersedih Saudaraku! Inilah Dua Kunci Kejayaan Seorang Mu’min

Namun, wahai saudaraku seiman, janganlah engkau merasa sedih dengan terpenjaranya kita di dunia ini dan terbelenggunya “cita-cita duniawi” kita untuk mengejar dunia. Karena apapun keadaan kita, baik kita dalam keadaan lapang ataupun sempit. Kaya maupun miskin, insya Allah, kita selalu berada dalam kebaikan dan keberuntungan. Karena Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

“Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak didapatkan kecuali pada diri orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur. Dan apabila dia mendapatkan kesusahan maka dia akan bersabar.” [Hadits Riwayat Imam Muslim]

Dua kunci kejayaan dalam kehidupan seorang mu’min adalah syukur dan sabar. Itulah dua bekal yang dimiliki oleh seorang yang beriman dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Jika dapat mengamalkan keduanya, maka selesailah semua urusan. Sehingga seorang mu’min itu tidak pernah merasa tertekan dengan masalah dan terlalu senang jika mendapat sesuatu.

Jika keduanya sudah bermukim dalam hati kita, insya Allah, Allah subhanahu wa ta’ala menjanjikan syurga bagi kita, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.” [Q.S. An-Nazi’at: 37-41]

Kita Hanya “Singgah” Lalu “Pulang” Kembali

Saudaraku yang beriman, pada hakikatnya kita hanyalah singgah di dunia yang fana ini. Kita tidak akan lama hidup dunia. Kehidupan kekal abadi hanyalah di syurga sana. Oleh karena itu, bergembiralah wahai hati-hati yang bersedih.

Karena, Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja bersabda: “Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya.” [Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi]

Dan tiada lain bekal kita kembali adalah hati yang bersih (bertauhid) bukanlah harta benda, prestise, dan keturunan kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (bertauhid).” [Q.S. Asy-Syua’ara: 88-89]
See More

Amalkan Zikir Setiap Pagi dan Petang Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah

أًلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ


Segala puji bagi Allah, Tuhan sekelian alam. Selawat serta salam buat junjungan mulia Nabi Muhammad  SAW. keluarga serta para sahabat dan pengikut yang istiqamah menuruti baginda hingga ke hari kiamat.
 
Sahabat yang dirahmati Allah,
Berzikir kepada Allah SWT setiap pagi dan petang sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah SAW adalah makanan rohani sebagaimana fizikal luaran manusia memerlukan makanan untuk memberi kekuatan dan kesihatan tubuh badan.
 
Apabila amalan zikir dihidupkan dan dijadikan kebiasaan maka perjalanan kehidupan harian akan dirasai ketenangan, kebahagian dan keceriaan. Segala masaalah kehidupan akan mudah diatasi kerana mendapat bantuan dan rahmat Allah SWT.
 
“Sesungguhnya Rasulullah selalu menyebut-nyebut rahmat Tuhan, dalam satu hadis qudsi Allah SWT. berfirman maksudnya : "Wahai anak-anak Adam, (sebutkan) zikirkanlah Aku selepas sembahyang subuh barang sekejap dan selepas solat asar barang sekejap maka Aku memadai kepada engkau apa yang ada diantara dua waktu tersebut maka apabila naik matahari sembahyanglah duha sebanyak 8 rakaat."
(Hadis diriwayatkan oleh Saidina Hassan r.a)
 
Dari Uthman bin Affan r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda ; "Tidaklah seorang hamba setiap pagi dan petang membaca; ' Bismillahillazi layadurrumaasmihi saiun filardi wallafis samai wahuwas samiul alim' (maksudnya : Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada mudharat sedikit pun baik di bumi dan di langit, dan Ia Maha Melihat dan Maha Mengetahui.) kecuali bahawa tidak ada sesuatu yang membahayakannya."
(Hadis Riwayat Abu Dawud dan Tarmizi)
 
{Zikir ini di baca 3 kali pada waktu pagi dan petang}
 
Di dalam hadis yang lain, dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa menjelang petang membaca , 'A'uzubikalimatilla hittaamaati min syarrimaahalaq' (maksudnya : Aku berlindung pada kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya) 3 kali maka tidak akan membahayakan baginya racun yang ada pada malam itu." (Hadis Riwayat Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya)
 
{Zikir ini di baca 3 kali pada waktu pagi dan petang}
 
Sahabat yang dimuliakan,
Apabila kita megamalkan zikir-zikir tersebut yakinlah kepada Allah SWT bahawa tiada siapa di antara makkhluk yang boleh mendatangkan mudharat kepada kita samaada dikalangan manusia, jin dan syaitan. Kita dibawah pengawasan dan pemeliharaan Allah SWT iaitu dari pagi hingga kepetang dan dari petang hingga ke pagi.
 
Dari Ibnu Abbas r.a, katanya: Pada suatu hari aku berada dibelakang Rasulullah SAW (di atas kenderaan), lalu baginda bersabda: "Wahai anak, peliharalah Allah nescaya (Dia) akan memelihara kamu, peliharalah Allah nescaya (Dia) akan berada dihadapan kamu, dan jika engkau memohon maka memohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah, dan ketahuilah bahawa sekiranya umat berkumpul (bersepakat) untuk memberikan suatu manfaat kepadamu, nescaya mereka tidak akan mampu berbuat demikian melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan (ditakdirkan) oleh Allah, dan sekiranya umat berkumpul (bersepakat) untuk mendatangkan bencana keatas kamu, nescaya mereka tidak akan mampu berbuat demikian melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan (ditakdirkan) oleh Allah. Dan telah diangkat segala pena dan telah kering segala buku." (Hadis Hasan Sahih Riwayat  Tarmizi)
 
Berdasarkan hadis di atas dapatlah difahami bahawa Allah SWT mengingatkan umat manusia bahawa mereka adalah makhluk yang lemah, kuasa mereka sangat terbatas, mereka tidak akan dapat mencapai apa yang mereka hajatkan tanpa bantuan pihak yang lain.
 
Mengingatkan umat manusia betapa kuasa Allah yang tiada tara dan batasannya. Segala penghuni langit dan bumi tunduk kepada ketentuan-Nya. Jadi atas dasar inilah maka manusia mestilah memohon sesuatu hanya kepada Allah. Berzikir dan berdoa tanpa putus-putus mengharapkan bantuan dan pertolongan daripada Allah SWT.
 
Selain itu juga wajib diketahui bahawa memohon pertolongan kepada Allah atau berdoa kepada-Nya mestilah secara langsung secara terus menerus kepada-Nya, tidak melalui sembarang perantaraan atau wasitah dari manusia atau lainnya.
 
Tidak ada orang yang dapat memberi manfaat dan mudarat tanpa izin Allah SWT. Nabi SAW menerangkan kepada Ibnu Abbas r.a  bahawa sekiranya sekalian umat atau makhluk berkumpulan dan bersatu untuk memberi manfaat kepadanya ataupun sebaliknya mereka bersatu dan berkumpul untuk mendatangkan mudarat kepadanya, namun semua itu tidak mungkin akan terjadi kecuali apa yang telah dituliskan untuknya di Loh Mahfuz sejak azali.
 
Sahabat yang dikasihi,
Marilah kita amalakan zikir setiap pagi dan petang dengan istiqamah, kerana lidah yang sentiasa basah dengan zikrullah akan melahirkan ketenagan hati , kedamaian perasaan dan fikiran menjadi tajam dan mudah melahirkan idea yang baik.
 
Hikmah dan kebaikan zikir kepada Allah SWT akan mendapat doa dan naungan para malaikat dan syaitan akan menjauhkan dirinya kerana zikir akan membuatkan dirinya kepanasan.
 
Dari Bukhari, Muslim, Tirmizi dan Ibn Majah, diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a: Rasulullah  SAW bersabda : Allah SWT berfirman maksudnya : "Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, nescaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu di majlis, nescaya Aku juga akan mengingatinya di dalam suatu majlis yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, nescaya Aku akan datang kepadanya seperti berlari-lari anak."


Credit to: Ustaz Abu Basyer 

Kelebihan Zikir Kepada Allah

Allah Yang Maha Besar selalu mengingatkan kita di dalam kitab-Nya Al-Quran Al-Karim supaya berzikirillah seperti berikut:
 
“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang, dan pada sebahagian dari malam, maka sujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bahagian yang panjang di malam hari.”  Surah 76: Al Insan, Ayat 25 & 26
 
“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak meninggikan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”    Surah 7: Al A’raf,  Ayat 205
 
“Orang-orang yang mengingati Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Surah 3: Al Imran Ayat 191
 
“Sesungguhnya Aku lah Allah, tidak ada Tuhan selainKu, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.”   Surah 20 Ta Ha Ayat 14
 
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” Surah 33: Al Ahzab Ayat 21
 
Dari Bukhari, Muslim, Tirmidhi dan Ibn Majah, diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, nescaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu di majlis, nescaya Aku juga akan mengingatinya di dalam suatu majlis yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, nescaya Aku akan datang kepadanya seperti berlari-lari anak.
 
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah s.w.t Yang Maha Memberkati lagi Maha Tinggi memiliki para Malaikat yang mempunyai kelebihan yang diberikan oleh Allah s.w.t. Para Malaikat selalu mengelilingi bumi. Para Malaikat sentiasa memerhati majlis-majlis zikir. Apabila mereka dapati ada satu majlis yang dipenuhi dengan zikir, mereka turut mengikuti majlis tersebut di mana mereka akan melingkunginya dengan sayap-sayap mereka sehinggalah memenuhi ruangan antara orang yang menghadiri majlis zikir tersebut dan langit. Apabila orang ramai yang hadir dalam majlis tersebut beredar, para malikat naik ke langit.
 


Allah s.w.t bertanya para malaikat meskipun Allah mengetahui pergerakan mereka:
“Dari mana kamu datang?”
Malaikat menjawab:
“Kami datang dari tempat hamba-hambaMu di dunia.  Mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid serta berdoa memohon dari-Mu.”
 
Allah s.w.t berfirman:
“Apakah yang mereka pohonkan.?”
 
Para Malaikat menjawab:
“Mereka memohon Syurga dari-Mu.”
 
Allah berfirman:
“Apakah mereka pernah melihat Syurga-Ku?”
 
Para Malaikat menjawab:
“Belum, wahai Tuhan.”
 
Allah berfirman:
“Bagaimanakah agarnya akan terjadi seandainya mereka dapat melihat Syurga-Ku?”
 
Malaikat berkata lagi:
“Mereka juga memohon daripada-Mu perlindungan.”
 
Allah berfirman:
“Mereka pohon perlindungan-Ku dari apa?”
 
Malaikat menjawab:
“Dari Neraka-Mu, wahai tuhan.”
 
Allah berfirman:
“Apakah mereka pernah melihat Neraka-Ku?”
 
Malaikat menjawab:
“Belum.”
 
Allah berfirman:
“Bagaimanakah agarnya akan terjadi seandainya mereka dapat melihat Neraka-Ku.”
 
Malaikat terus berkata:
“Mereka juga memohon keampunan-Mu.”
 
Allah berfirman:
“Aku sudah mengampuni mereka. Aku telah kurniakan kepada mereka apa yang mereka pohon dan Aku telah berikan ganjaran pahala kepada mereka sebagaimana yang mereka pohonkan.”
 
Malaikat berkata lagi:
“Wahai tuhan kami, di antara mereka terdapat seorang hamba-Mu. Dia penuh dengan dosa, sebenarnya dia tidak berniat untuk menghadiri majlis tersebut, tetapi setelah dia melaluinya dia terasa ingin menyertainya lalu duduk bersama-sama orang ramai yang berada di majlis itu.”
 
Allah berfirman:
“Aku juga telah mengampuninya. Mereka adalah kaum yang tidak dicelakakan dengan majlis yang mereka adakan.”




Credit to:
http://www.alhawi.net/kelebihan-zikir

Menangislah Wahai Saudaraku

Tangisan adalah suatu fitrah bagi setiap makhluk bergelar manusia. Sejak dari awal kelahirannya, hinggalah ke akhir hayat setiap manusia, pasti tangisan akan menghiasi kamar hidupnya. Banyak punca yang menyebabkan air mata berlinangan namun berapa ramaikah dari kita yang tangisnya adalah kerana takutnya ia akan Allah s.w.t?. Berapa ramaikah dari kita yang menangis akibat menghitung setiap inci dosa dan noda yang telah kita lakukan?.
 
Wahai saudaraku, ketahuilah olehmu bahawa tangisan yang jatuh ke bumi kerana takutkan Allah membawa makna bahawa kita termasuk dalam golongan orang yang beriman kepada Allah sebagaimana firman Allah s.w.t
“ Dan takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (Surah Al-Imran : 175)
 
Wahai saudaraku yang kukasihi, menangis kerana Allah akan mengangkat martabat diri hingga termasuk dalam golongan penghuni syurga Allah yang penuh dengan segala kenikmatan yang tiada tolok bandingnya. Bahkan darjat juga akan ditinggikan oleh Allah selaras dengan janjiNya yang berbunyi
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga” (Surah Ar-Rahman : 46)
 
Seorang khalifah yang agung dimuka bumi Allah ini tidak pernah asing dengan tangis dan hiba saat meratapi akan segala dosanya kepada Al-Ghafur. Lihat sahaja mereka yang dekat dengan Tuhan sekalian alam seperti kekasih Allah, Rasulullah s.a.w, para sahabat r.a, para tabi’in dan tabi’tabi’in , semuanya bercucuran air mata kerana takutnya mereka kepada Allah.
 
Rasulullah s.a.w sendiri menangis kerana takutkan Allah. Seorang Nabi dan kekasih Allah yang dijanjikan syurga dan maksum. Pernah suatu ketika sedang Rasulullah s.a.w duduk bersama-sama dengan para sahabat, tiba-tiba baginda menoleh pandangannya kearah sekumpulan manusia seraya bersabda “Apakah yang sedang mereka lakukan?”.
 
Salah seorang dari sahabat menjawab, “Mereka sedang menggali kubur untuk mengebumikan seorang yang telah meninggal dunia.”
 
Sebaik mendengar jawapan itu, Baginda berganjak dari tempat duduknya dan berjalan pantas mendahului para sahabatnya. Akhirnya baginda tiba di tanah perkuburan itu dan mencangkung berhampiran kubur tersebut. Para sahabat mengambil tempat dihadapan Baginda Rasulullah agar dapat melihat apa yang akan dilakukan oleh Baginda. Mereka melihat Rasulullah s.a.w menangis sehingga air mata menitis ke pipinya kemudian berkata kepada sahabat, “Wahai saudara-saudaraku, kalian harus mempersiapkan diri untuk menghadapi peristiwa seperti hari ini (kematian).”Bagitulah ketakutan Kekasih Allah yang mulia. Bagaimanakah dengan kita sebagai umatnya?.
 
Menangis kerana takutkan Allah akan menyelamatkan kita dari seksaan dan azab Allah yang pedih, menempatkan kita didalam syurgaNya dan menikmati segala kenikmatan yang tidak dapat dibayang oleh akal fikiran.
 
Ubay bin Ka’ab berkata, “kalian harus memegang ajaran dan sunnah Nabi Muhammad s.a.w. Bukan termasuk orang yang memegang ajaran dan sunnah Nabi ketika teringat seksaan Allah, namun dia tidak menitiskan air mata kerana takut kepada seksaNya. Maka orang seperti ini akan bersama-sama api neraka untuk selama-lamanya”.
 
Orang yang memegang ajaran dan sunnah Nabi ketika teringatkan Allah, maka pasti akan ketakutan dan bergetar jantungnya kerana takut pada siksaan Al-Muntaqim. Dosa-dosa orang seperti ini akan berguguran seperti mana gugurnya daun-daun dari pohon yang ditiup angin.
 
Hisaplah diri kita sejenak, bermuhasabahlah dan berfikirlah perihal kehidupan di negeri yang kekal abadi. Adakah kita pernah menangisi dosa-dosa kita?. Bilakah kali terakhir pipi dibasahkan dengan linangan air mata keinsafan?. Hanya Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat segala sesuatu perbuatan. Moga dikurniakan Allah dengan perasaan ketakutan terhadap dosa.
 
Menangislah, Wahai Saudaraku…

By: Ad-Dien

 

Cinta & Kasih Sayang

Kasih sayang adalah satu sifat yang terpuji yang amat digalakkan bagi setiap individu Muslim yang mengamalkannya dalam kehidupan. Setiap insan mahu diri mereka disayangi. Oleh itu wujud sistem kekeluargaan dalam masyarakat yang berteraskan kasih sayang ini untuk kehidupan yang aman damai. Apabila sifat kasih sayang mula luntur ditambah pula sifat dendam dan kebencian, ianya akan menjanjikan kehancuran kepada sesuatu bangsa atau masyarakat.
 
Dalam ajaran Islam terdapat banyak ayat Al-Quran dan Hadis yang menyeru ke arah memupuk semangat kasih sayang antara sesama Islam.
 
Pernah Baginda Rasulullah s.a.w bersabda yang berbunyi:
Maksudnya: “ Orang Mukmin itu mengasihani saudaranya seperti mana ia mengasihani dirinya sendiri. “
 
Inilah sebabnya baginda Rasulullah s.a.w menyatupadukan golongan Aus dan Khadraj yang berperang lebih dari seratus tahun, semata-mata melalui perasaan kasih sayang. Malah kehadiran orang Muhajirin disambut dengan hati yang terbuka oleh orang Ansar, dengan penuh rasa simpati dan kasih sayang yang amat mendalam. Sifat pengorbanan juga jelas kelihatan di kalangan para sahabat yang sanggup berkongsi apa jua kesenangan dan kesusahan di kalangan mereka. Inilah faktor utama kewujudan sebuah masyarakat dinamik yang muncul di tengah Kota Madinah, walaupun kota tersebut sebelum ini diselaputi dengan prasangka buruk dan kebencian sesama Arab Madinah. Malah ia juga dapat meningkatkan taraf dan kedudukan masyarakat Arab Madinah yang sebelum ini hanya bekerja sebagai petani dan peladang, kepada suatu kedudukan yang dihormati. Peranan orang Muhajirin yang banyak berkongsi pengalaman dan kemahiran juga telah membawa perubahan yang ketara dalam kehidupan masyarakat Kota Madinah.
 
Jelaslah bahawa Rasulullah s.a.w telah dapat menyusun masyarakat Madinah yang terdiri daripada pelbagai latar belakang, bangsa dan agama dengan konsep kasih sayang dan tolerensi yang telah membawa satu kekuatan yang utuh. Kota Madinah pernah diserang oleh musuh, namun dengan semangat kerjasama dan pengorbanan yang tinggi, dapat ditangkis segala serangan tersebut. Kalau sebelum ini Kota Madinah telah dikuasai ekonomi dan maruahnya oleh orang Yahudi, maka kehadiran Muhajirin telah membantu umat Islam ketika itu meningkatkan taraf hidup dan pemikiran mereka untuk berdikari dan berusaha bersungguh-sungguh. Akhirnya ladang dan harta orang Ansar yang tergadai ke tangan orang-orang Yahudi itu telah dapat mereka tebus kembali. Maka tepatlah sabda

Baginda Rasulullah s.a.w yang berbunyi:
Maksudnya: “ Orang Mukmin ibarat sebuah bangunan yang masing-masing berpaut satu sama lain. “
 
Apabila kita meninjau akan kelemahan kita masa kini serta perpecahan yang berlaku ke atas umat Islam, puncanya ialah kita tidak lagi meletakkan semangat kasih sayang dalam pergaulan kita sehari-hari. Akibatnya mudahlah musuh Islam menyebarkan pelbagai hasutan dan propaganda agar umat Islam terus berpecah dan bertelingkah sesama sendiri, yang akhirnya membawa kepada kejatuhan umat dan negara Islam itu sendiri. Ini amat menguntungkan musuh-musuh Islam, lagi memudahkan mereka merampas hak dan tanah air kita dengan cara memperalatkan sesama kita. Malah dalam sejarah bangsa Melayu, pernah kita mengajak Inggeris, menyediakan kelengkapan perang untuk menjatuhkan sesama Melayu. Akibatnya negara kita dijajah.
 
Masyarakat yang kita harapkan ialah sebuah masyarakat yang penuh dengan semangat kasih sayang serta kerjasama, dapat mengembalikan maruah dan kekuatan perpaduan sesama Muslim. Apa yang penting ialah nilai-nilai kasih sayang perlu diberi perhatian utama dalam pembentukan sahsiah Muslim, seterusnya diserap dalam keluarga dan masyarakat kita. 
 
Sifat-sifat keji yang menjurus kepada kebencian hendaknya kita hindari dari terus tersemat di dalam masyarakat kita. Antara sifat buruk itu ialah suka mencaci sesama Islam, mengadu domba, membuat fitnah dan sebagainya. Ini ternyata akan merugikan kita kelak dan Baginda Rasulullah s.a.w sendiri melarang sifat buruk tersebut.

Baginda dengan tegas telah menyatakan di dalam sabdanya yang berbunyi:
Maksudnya: “ Orang mukmin tidak suka mengutuk-ngutuk.” (Riwayat Tarmidzi)
 
Malah banyak lagi Hadis yang melarang segala sifat keji ini. Antara punca lahirnya sifat-sifat keji itu ialah:
 
1. Hilang rasa malu dan rendah diri kita terhadap segala perkataan dan perbuatan kita.
2. Meletakkan nafsu dan dorongan rasa benci terhadap saudara kita.
3. Rasa benci dan ketidakpuasan hati kita yang telah mengawal akal dan hati kita.
 
Akibatnya lahirlah satu gerakan yang bermula dari individu, seterusnya menjadi satu golongan yang besar yang membawa kepada rasa kebencian sesama kita demi kepentingan individu tertentu. Maka ketika itu mudahlah musuh mengeksploitasikan orang Islam untuk kepentingan mereka. Maka jatuhlah kerajaan dan negara umat Islam seperti di Indonesia, negara-negara Arab dan Afrika yang hanya memikirkan cara untuk menghapuskan saudaranya sahaja, bukan untuk membantu dan meningkatkan maruah serta martabat bangsa mereka sendiri.
 
Oleh itu marilah kita bersama-sama dengan semangat kasih sayang yang pernah menjanjikan kebahagiaan kepada kita dan melupakan segala kesengsaraan. Biarlah kita semai diri setiap kita dengan hati yang jujur lagi ikhlas, dengan ajaran yang murni semoga berkekalan hingga ke generasi anak cucu cicit kita seterusnya. Banyak tanggungjawab kita yang belum selesai dan sesungguhnya kebencian tidak pernah menjanjikan kebahagiaan kepada sesiapa pun jua.
 
Rumusan
Kasih sayang membentuk jiwa dan hati kita supaya menjadi halus dan suka kepada kedamaian dan kesejahteraan. Semoga semangat itu terus menjadi teras pembina akhlak anak kita di rumah. Biarlah cerita dan andaian ke arah kebencian antara kita dihentikan. Semoga tidak merosakkan hati kita dan anak-anak kita.

Erti Kehidupan


Kata orang, jauh perjalanan luas pemandangan. Memang langsung tidak dinafikan ayat ini. Bagi saya sendiri, semakin banyak kita berjalan, semakin banyak kita merasai rasa lelah, semakin banyak yang akan kita pelajari dalam hidup. Dan frasa pemandangan itu, mungkin juga membawa maksud pelbagai corak kehidupan yang dapat kita lihat, yang mungkin sangat berbeza dari kehidupan kita dan akhirnya, setiap pemandangan itu membuka mata kita sepenuhnya.

Membuka mata kita untuk melihat dari sudut yang berbeza.
 
Munkin sebelum ini cara pandang kita terhadap kehidupan sangat berbeza. Apatah lagi apabila kita ibarat berada di ‘dalam kepompong yang lengkap’. Yang dimana kita merasa bahawa kehidupan kita sudah sangat lengkap, walhal sebenarnya tidak. Dan mungkin sebelum ini cara kita ‘memandang’ Tuhan itu berbeza.
Ya, memandang Tuhan.
Ada orang di luar sana, ada orang walaupun hidup dalam Negara Islam, masih tetap tercari-cari apakah sebuah keindahan didalam agama Islam untuk lebih rapat kepada Allah SWT. Dan jangan hairan apabila ada orang yang belajar di universiti Islam, kolej Islam juga masih belum menemui Tuhannya. Masih tetap tidak mengenal Allah SWT, walaupun mereka tahu Allah SWT itu siapa. Sebab itu saya kata, jangan nilai seseorang itu berdasarkan dari mana dia belajar. Sebab itu bukan kayu pengukurnya untuk mengenal Allah SWT.
Mencari Kehidupan
Jiwa itu, apabila sudah lama dan jauh perjalanannya dengan jiwa yang kosong, lambat laun akan tercari-cari erti kehidupan yang sebenarnya. Dan ingin saya kongsikan satu kisah seseorang yang saya kenali dahulu sebagai orang yang selamba dan ‘sangat sederhana’ dalam agama. Beliau berpeluang menyambung pelajaran ke luar Negara. Dan cuba teka. Negara itu adalah Negara yang bukan Islam. Sekilas fikir, Negara bukan Islam. Apakah ada tarbiyah di sana? Apakah ada keindahan agama Islam di sana? Sebelum beliau melanjutkan pelajarannya, saya sempat bersembang-sembang kosong dengannya. Dan dia berkata, “dengan penghijrahan ini, aku harap aku temui makna hidup.” Dan saya rasa, dengan perkembangan diri dia sekarang dia sudah menemui makna kehidupan. Alhamdulillah.
Islam itu, ada di mana-mana. Negara Islam bukanlah penjamin bahawa penduduknya akan menemui keindahan Islam didalamnya. Bukankah Allah Ta’ala memelihara agama ini dan meredhainya? Mana mungkin keindahannya hanya terhad dalam beberapa buah Negara sahaja, bukan? Itu sangat pasti!
Sebab itu, Islam sangat menggalakkan penganutnya untuk mengembara jauh dari tanah kelahiran. Dan betullah saranan Imam Al-Ghazali dan Imam Asy-Syafie, mereka sangat-sangat menggalakkan untuk keluar dari rumah mengembara. Kerana pada kembara itu ada banyak hikmah. Dan salah satunya, cara pandang terhadap kehidupan itu akan lebih meluas.
Pada kembara itulah kita akan mengenal ramai manusia yang mempunyai banyak ragam. Kita akan bertemu dengan manusia yang sebenar dan manusia yang palsu. Dengan kembara itu jugalah kita akan menimba banyak perkara. Dari sekecil-kecil perkara sehingga yang sebesar-besarnya. Dan kita akan belajar sesuatu daripada itu semua hanya apabila kita sendiri yang dengan rela membuka mata hati.

Pada Kelembutan Erti Hidup
Allah SWT itu, Tuhan yang mengakui dirinya Tuhan Yang Maha Mengasihani, Yang Maha Mengampuni, Yang Maha Memberi ketenangan jiwa. Menyelusuri sejarah pahit dan manis para Nabi dan Rasul serta orang-orang terdahulu yang telah dibuktikan kekuasaan-Nya, maka memang tiada keraguan untuk setiap sifat-sifatNya yang mulia.
Bagi orang-orang yang pernah merasa kesamaran dalam mencari semula erti hidup, maka dia pasti faham bagaimana kesengsaraan jiwanya menanggung rasa kekosongan sehinggalah dia menemui makna yang sebenarnya kepada erti hidup. Erti hidup yang membawa untuk mengenal-Nya. Dan dia sangat merasa bahawa ruginya dia selama ini. Dalam kerugian itu, sudah pasti banyak titik noda dosa yang terkumpul. Baru terasa betapa hinanya diri sendiri.
Baru tersedar dari lamunan bahawa dia sudah lama terkeluar dari landasan sebenarnya.
Maka, apakah tiada pengampunan dari Allah Ta’ala?
Allah Ta’ala berfirman di dalam surah al-Hijr, ayat 49-50.
“Khabarkanlah kepada hamba-hambaKu, bahawa Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani dan bahawa azab-Ku adalah azab yang pedih.”
Nampak? Pada setiap rasa sesalan akan masa lalu yang terbiar dipalit dengan noda-noda hitam, pasti ada pengampunan dan kerahmatan dari-Nya.
Allah SWT tidak akan berkata ‘TIDAK’ kepada hamba yang dating kepada-Nya.

Membuat Hidup Lebih Bererti
Untuk sebuah erti hidup, jangan sesekali merasa hilang daya, hilang sebuah harapan terhadap Allah, Tuhan Yang Menguasai hati-hati manusia. Dan, sekali menemui erti hidup, maka banyakkanlah usaha untuk lebih membuat hidup bererti. Di dunia, mungkin setiap usaha kecil itu hanya akan dipandang tiada. Tapi percayalah bahawa di sisi Allah, yang kecil itu mungkin pembawa natijah yang besar dan begitu juga sebaliknya.
“Sesungguhnya berjayalah orang yang beriman. Juga mereka yang khusyuk dalam solatnya. Juga mereka yang menjauhkan diri daripada yang lagha.”
– al Mukminun : 1-3
Perjalanan waktu yang tidak mengenal erti ‘berhenti’, tetap akan terus berlalu pergi meninggalkan manusia. Semua yang ditinggalkan itu berada dalam sia-sia kecuali mereka yang benar-benar membuat erti sesuatu untuk hidup. Kita diciptakan berada dalam lingkaran waktu yang tidak peduli sama ada manusia itu rugi atau untung. Kerana yang bertanggungjawab dalam mencorak kehidupan adalah manusia itu sendiri.
Pencarian dalam hidup pasti akan terus-menerus berlangsung. Masih banyak yang perlu diterokai keindahan rahsia dalam hidup bertuhan. Semakin banyak berjalan mencari erti hidup, semakin banyak perkara yang disedari belum diketahui.
Namun apa yang pasti,
pintu-Nya belum tertutup lagi!

Semoga ALLAh merahmati.
 

The Moon has split into two based on the Al Quran, the sunnah & science


Firman Allah:"Telah hampirnya Qiamat dan telah berlakunya bulan terbelah.
(1:al_Qamar)


Orang2 di Mekkah telah minta kepada Rasulullah s.a.w supaya memperlihatkan kpd mereka satu tanda kenabian. Maka baginda memperlihatkan mereka terbelahnya bulan. Maka Rasulullah s.a.w bersabda "Saksikanlah"(Hr Bukhari)

 
Bulan terbelah pada zaman Rasulullah s.a.w menjadi dua. Satu sebelah arah satu gunung dan satu lagi diarah gunung yg lain. Penduduk Mekah berkata "Muhammad telah menyihir kita." Org yg lain berkata "Sekiranya dia dapat menyihir kita tetapi dia tidak dapat menyihir manusia keseluruhannya."(Hr Imam Ahmad)
 
Dalam rancangan Dialog secara live di siaran TV BBC diantra pengacara Britain terkenal James berg dgn 3 ilmuan angkasa amerika. James telah mencela terhadap pemborosan yg melampau kerana sebanyak 100juta dolar telah dibelanjakan pd tahun 1969 ketika perjalanan manusia pertama yg sampai ke bulan (neil amstrong); sedangkan banyak bangsa dan kanak2 yg mengalami kefaqiran, kelaparan dan kesakitan.
 
Para ilmuan angkasa tadi menjawab bahawa tujuan perjalanan ke bulan adalah bertujuan utk membuat kajian sains terhadap bulan. Sesungguhnya mereka telah mendapat hasil kajian sains yg hebat dan amat menakjubkan. Kalaulah berkali ganda drpd wang tersebut dibelanjaan spya manusia percaya dgn perkara tersebut; nescaya mereka tidak percaya (tanpa adenya penemuan tersebut)
 
Penemuan sains tersebut adalah bahawa bulan telah terbelah sejak zaman dahulu kepada dua bahagian kemudian bercantum semula. Buktinya adalah penemuan terhadap rekahan batu yg bengkang bengkok serta panjang. Rekahan wujud di permukaan bulan dan tembus ke dalamnya. Telah diletakkan alat pengesan gempa bumi di rekahan tersebut utk memastikan perkara tersebut.
 
Rekahan batu ini dalamnya beberape kilometer. Lebarnya diantara 500m hingga 5000 m dan panjangnya rekahan ini 250 km dlm keadaan garis lurus dan bengkang bengkok. Ia bermula dr kutub selatan bulan dr sudut yg tidak dilihat dr bumi. Prgram tv ini telah dilihat oleh Daud Musa bedcock sehingga beliau masuk Islam dan menjadi presiden parti Islam Britain.
 
rujukan: Mausu'ah I'jazul Quran oleh Dr Nadia Toyyarah.


Posted by Ustaz Salman